Gandrungnya saya akan Jason Sudeikis dimulai setelah menonton Sleeping With Other People (2015). Bahkan, ulasan film terakhir yang saya tulis panjang-lebar di blog ini adalah film tahun 2017-nya, Kodachrome.
Lalu, seperti yang sudah-sudah terjadi pada aktor lelaki lain yang saya gila-gilai, saya mulai mengais serpihan-serpihan informasi tentang Sudeikis di pojok-pojok gelap internet. Bahwa dia memulai karier dengan berakting improvisasi; bahwa dia sudah mengidap anosmia bahkan sebelum munculnya Covid-19; menonton penampilannya di acara televisi Who Do You Think You Are?—di mana dia melacak leluhurnya hingga mengetahui bahwa kakeknya mengabaikan keluarganya dan meninggal dalam kondisi yang menyedihkan. Saya jadi tahu kalau dia suka sekali karaoke. Sampai akhirnya, saya follow akun Instagram tunangannya waktu itu—yang sebenarnya nggak pernah saya sukai, tapi mau gimana lagi? Sudeikis tak hadir di media sosial. Ketika akhirnya berita mereka berpisah mulai santer awal tahun ini, rasanya lega banget bisa unfollow perempuan itu.
Kelakuan obsesif yang ganas itu, tentu, termasuk menonton semua klip lamanya, saat era Saturday Night Live, di Youtube. Namanya dikenal luas oleh publik Amerika selama 10 tahun mengisi acara itu. Episode favorit saya adalah waktu dia bernyanyi sambil (pura-pura) main piano. Dan, mau tidak mau, saya pun berakhir menyaksikan video sketsa Ted Lasso versi awal—yang dibuat sebagai iklan siaran Liga Premier Inggris di stasiun televisi NBC.
Saya nggak suka penampilan itu.


Tinggalkan Balasan