anastha eka

  • Tentang Jason Sudeikis, Ted Lasso, dan Aktor Lelaki Kulit Putih

    Tentang Jason Sudeikis, Ted Lasso, dan Aktor Lelaki Kulit Putih

    Gandrungnya saya akan Jason Sudeikis dimulai setelah menonton Sleeping With Other People (2015). Bahkan, ulasan film terakhir yang saya tulis panjang-lebar di blog ini adalah film tahun 2017-nya, Kodachrome. Lalu, seperti yang sudah-sudah terjadi pada aktor lelaki lain yang saya gila-gilai, saya mulai mengais serpihan-serpihan informasi tentang Sudeikis di pojok-pojok gelap internet. Bahwa dia…

  • Towako, Aku, dan Mantan-Mantan Suami Kami

    Towako, Aku, dan Mantan-Mantan Suami Kami

    Omameda Towako sudah tiga kali menjanda. Tiga kali menikah, tiga kali bercerai. Kata ayah Towako, pernikahan pertamanya so suddenly, yang kedua seperti comedy, sedangkan yang ketiga bak fantasy. Ketiga, bukan terakhir. Karena Towako tak pernah membatasi dirinya mencari kebahagiaan.

  • Menginsafi Seks dan Keintiman Lewat Kakou no Futari

    Menginsafi Seks dan Keintiman Lewat Kakou no Futari

    Apa yang muncul di kepalamu, apa yang kaurasakan saat muncul adegan seks di film yang kamu tonton? Jengah? Terangsang? Penasaran? Jijik? Lalu, bagaimana jika sebaliknya? Saat kamu berhubungan seks, apa yang ada di kepalamu? Wajah idolamu? Adegan seks terakhir yang kamu tonton di film atau video porno? Jemuran yang belum diangkat? Pintu kamar yang…

  • Rimba Rasa di Sudut Pasar

    Rimba Rasa di Sudut Pasar

    Suatu Minggu sore, setelah dua minggu menunggu, saya memberanikan diri mendatangi rimba itu. Rimba rasa bernama Joongla, sebuah kios fine dining di dalam Pasar Cihapit. Kios fine dining. Sungguh terdengar seperti oksimoron.

  • Yang Berhasil Nyangkut di 2021

    Yang Berhasil Nyangkut di 2021

    Sudah jelas kalau 2021 adalah tahun yang luar biasa sulit, meski diam-diam saya agak menikmatinya. Mungkin seperti terjebak dalam sindrom Stockholm, tapi ya, begitulah. Saya menikmati lockdown—menikmati pergerakan yang dibatasi, terkungkung secara fisik. Saya menikmati kondisi menanti-menanti, berada di antara.

  • Maria Mampir ke Bandung

    Maria Mampir ke Bandung

    “Nggak papa, hujan itu kan berkah,” ujar Feby Indirani dengan santai, menanggapi keluhan saya akan hujan badai yang tiba-tiba mengguyur Bandung kala itu. Dua kali Bukan Perawan Maria mampir ke kota ini, dua-duanya diiringi oleh hujan. Bandung tak jauh berbeda dengan Jakarta. Kala dilanda hujan yang agak besar, jalan-jalan tergenang air sehingga macet pun…

  • Mengingat Kembali Bali yang Sejati

    Mengingat Kembali Bali yang Sejati

    Ubud kini tak lagi sehening dulu. Kafe-kafe dan butik-butik trendi telah bermunculan di sudut-sudut kota kecil itu layaknya jamur di musim hujan. Akan tetapi, di tengah riuhnya turis yang celingak-celinguk mencari arah di Jalan Raya Ubud, sebuah gapura megah masih berdiri, menjadi batas antara ruang kota yang bergerak cepat menuju modernitas dengan ruang gerak…

  • Diskusi Tentang Kota yang (Katanya) Kreatif

    Diskusi Tentang Kota yang (Katanya) Kreatif

    Tidak banyak acara diskusi di Bandung. Maaf, ralat. Tidak banyak acara diskusi yang menarik perhatian saya di Bandung. Maka, ketika tahu bahwa ada sebuah acara diskusi berjudul “Apanya Kota Kreatif?” di Spasial, Bandung, bulan Desember lalu, saya memberanikan diri untuk datang. Judul diskusinya provokatif, setidaknya menurut saya. Hati kecil saya seakan berteriak, “Akhirnya ada…

  • Menikmati Mi Instan Hasil Mutasi

    Menikmati Mi Instan Hasil Mutasi

    Apakah sebuah pameran karya seni harus dilakukan di sebuah galeri seni? Tidak juga. Ada banyak ruang alternatif yang bisa digunakan untuk memamerkan karya-karya seni. Lobi hotel, kafe, pusat perbelanjaan, gudang tak terpakai, bahkan di luar ruang seperti sisi trotoar atau hutan sekalipun. Selama bulan Januari ini, sebuah ruang kecil di dalam Tobucil, toko buku…