Di bulan Oktober, akhirnya saya berhadil mengumpulkan keberanian untuk nonton di bioskop. Sungguh tindakan berani mati di tengah pandemi, bukan?
No Time To Die terasa seperti pilihan yang tepat karena, James Bond, gitu. Film James Bond itu tidak dirancang untuk ditonton di rumah. Mereka memang dibuat untuk layar lebar. Ya, nggak?
Dan saya benar-benar nggak menyesal. Film yang bagus. Layak dibandingkan dengan risikonya. Saya jelas-jelas akan merindukan Daniel Craig sebagai 007.
Satu-satunya pameran seni yang saya kunjungi tahun ini adalah Ekuilibrium: Karya dan Pemikiran Rita Widagdo. Bukan kebetulan kalau memang saya terlibat di belakang layar, menyunting dan menerjemahkan katalognya. Tapi, ini bukan satu-satunya keterlibatan saya dalam menyampaikan cerita karier kesenimanan Rita Widagdo. Tahun lalu, saya menyunting buku Nurdian Ichsan, yang di pameran ini juga menjadi kurator, tentang karier dan warisan Rita Widago.
Saya nggak tahu kenapa saya menunggu lebih dari satu dekade untuk nonton Downton Abbey. Sejak lama sudah berniat menonton, tapi selalu merasa, kok kayaknya tidak sepenting itu. Sampai bulan lau. Dan memang cuma butuh satu bulan untuk menghabiskan seluruh enam musim dan satu film panjang. Mungkin, memang nggak penting, sih. Tapi, Dan Stevens enak banget dilihat. Sayang, cuma bertahan tiga musim.
Akhirnya, sorotan paling nyata selama tahun ini. Buku pengasuhan anak terbaik yang pernah saya baca. Menampar. Membangunkan pada realitas. Baca sendiri saja, deh.


Tinggalkan Balasan